Berita

BSI Tingkatkan Digitalisasi untuk Penuhi Standar Kompetensi Bankir Syariah OJK

Dalam era digital yang terus berkembang, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI mengambil langkah strategis untuk mengoptimalkan digitalisasi. Langkah ini diambil guna memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi para bankir syariah di Indonesia. Di tengah tantangan yang dihadapi, inisiatif ini menunjukkan komitmen BSI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor perbankan syariah.

Inisiatif Digitalisasi untuk Peningkatan Kompetensi

Direktur Utama BRIS, Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan bahwa Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) baru-baru ini meluncurkan platform e-learning terintegrasi. Platform ini ditujukan untuk memperkuat kompetensi lebih dari 50.000 bankir syariah di seluruh Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas tantangan digitalisasi serta memenuhi berbagai standar kompetensi yang ditetapkan oleh OJK.

Anggoro yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asbisindo, menekankan bahwa digitalisasi ini merupakan bagian dari upaya asosiasi untuk memperbarui dan meningkatkan kompetensi para bankir di tengah kesibukan operasional sehari-hari. Dengan adanya platform ini, diharapkan para bankir syariah dapat terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan industri yang cepat.

Pentingnya Teknologi Pembelajaran

“Pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi sarana penting untuk mengakses ilmu tanpa batas ruang dan waktu. Sifatnya scalable dan selaras dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” kata Anggoro dalam keterangan resminya. Pernyataan ini mencerminkan komitmen BSI dalam menghadirkan solusi pendidikan yang modern dan relevan.

Ketua Asbisindo Institute, Wahyu Avianto, menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari cetak biru pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor jasa keuangan yang dirumuskan oleh OJK. Saat ini, terdapat sekitar 71 hingga 91 jenis kompetensi yang wajib dipenuhi oleh para profesional di bidang perbankan. Dengan demikian, peluncuran platform ini diharapkan dapat membantu bankir syariah memenuhi berbagai kompetensi yang dibutuhkan.

Fokus Awal pada Sertifikasi Manajemen Risiko

Untuk tahap awal, pengembangan digitalisasi akan difokuskan pada Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko (PPSMR) untuk jenjang 4 hingga 6. Sementara itu, untuk jenjang 7 yang mencakup level direksi, pelatihan akan tetap dilakukan secara luring atau offline. Hal ini bertujuan untuk menjaga kedalaman interaksi strategis yang diperlukan dalam proses pembelajaran.

Menjawab Tantangan Digital Gap

Farid Subkhan, Chairman VOCASIA, menyoroti pentingnya kolaborasi ini dan mengutip arahan dari Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, Muliaman Darmansyah Hadad. Ia menyatakan bahwa masih terdapat digital gap dalam pengembangan SDM yang selama ini belum terorkestrasi dengan baik. Inisiatif ini diharapkan dapat menutup kesenjangan tersebut melalui platform e-learning yang terintegrasi.

“Kehadiran kami untuk membantu agar insan perbankan syariah terorkestrasi dalam satu platform e-learning,” ujarnya. Dengan demikian, Asbisindo Institute dan VOCASIA berkolaborasi untuk menciptakan solusi yang dapat membantu para bankir syariah dalam mengakses berbagai materi pembelajaran secara lebih efisien.

Peran VOCASIA dalam Pengembangan Konten

Dalam kolaborasi ini, VOCASIA bertindak sebagai penyedia teknologi yang mengelola platform dan fasilitas produksi konten. Sementara itu, Asbisindo akan fokus pada substansi kompetensi dan pemasaran. Farid mengungkapkan bahwa kolaborasi ini telah diinisiasi selama hampir satu tahun guna menemukan model terbaik dalam pengembangan platform ini.

Ke depan, platform e-learning ini akan terus dikembangkan untuk mencakup seluruh kamus kompetensi yang ditetapkan OJK. Farid juga menekankan pentingnya mengajak para ahli perbankan syariah untuk bergabung sebagai instruktur digital, sehingga kualitas konten yang dihadirkan akan semakin baik.

Akses Konten yang Mudah dan Fleksibel

Farid menargetkan agar para profesional perbankan syariah dapat mengakses konten video terkurasi, modul aplikatif, dan diskusi interaktif kapan saja. Hal ini bertujuan untuk mendorong standarisasi kompetensi dan kesiapan dalam menghadapi dinamika industri keuangan yang semakin kompleks. Dengan adanya akses yang lebih fleksibel, diharapkan para bankir syariah dapat terus mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan mereka.

  • Platform e-learning terintegrasi untuk 50.000 bankir syariah.
  • Fokus pada Program Pemeliharaan Sertifikasi Manajemen Risiko.
  • Pelatihan luring untuk level direksi demi menjaga interaksi strategis.
  • Keterlibatan para ahli sebagai instruktur digital.
  • Konten dapat diakses kapan saja untuk meningkatkan kompetensi.

Dengan langkah-langkah strategis ini, BSI dan Asbisindo tidak hanya berkomitmen untuk meningkatkan digitalisasi bankir syariah, tetapi juga untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Digitalisasi bankir syariah bukan hanya sekadar memenuhi standar OJK, tetapi juga menjadi fondasi bagi masa depan perbankan syariah yang lebih kompetitif dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Related Articles

Back to top button